Hidupkan Kembali Jurnalisme Al-Hikam

By admin 30 Aug 2016, 21:18:59 WIB Kegiatan Kampus
Hidupkan Kembali Jurnalisme Al-Hikam

Arus informasi semakin tidak terbendung lagi di era modern ini. Hal ini menjadi tanntangan tersenderi untuk kita dalam mengelola informasi yang ada. Dalam rangka pengabdian masyarakat Tim dari Universitas Brawijaya yang beranggotakan M. fikri A.R, M , Widya Pujarama, M. , dan Muhammad Irawan S., M.I.Kom memberikan pelatihan jurnalistik untuk para santri Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang (28/8/2016). Kegiatan ini dibuka dengan sambutan oleh Muhammad Nafi’ selaku Bapak Wakil Pengasuh Pesantren Mahasiswa Al-Hikam. “Santri-santri disini harus dibina untuk bisa menumbuhkan jurnalis-jurnalis yang amanah di masa mendatang, pelatihan ini sangat penting bagi para santri agar tidak memberikan informasi yang simpang siur” Tutur Ustad Muhammad Nafi’.

Seusai sambutan dilanjutkan dengan materi pertama yang disampaikan oleh Widya selaku Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik tentang teori komunikasi sampai sudut pandang jurnalistik. Komunikai interpersonal menjadi pembuka pada presentasi kali ini. Menurut Widya organisasi yang berada di Pesantren Mahasiswa Al-Hikam sudah berjalan dengan baik namun belakangan ini masih belum efektif untuk sementara. Manajemen media sangat penting untuk membangun organisasi khususnya di bidang jurnalistik ini.

Dilanjut materi kedua oleh Irawan tentang sejarah Pers. Dimana Pers ini berasal dari china yang mana Pers hanya dilakukan oleh kalangan kerajaan. Setelah pers muncullah surat kabar voc pertama yang beredar di negeri ini yang berisi tentang harga bahan pokok pertama yang dijual oleh mereka. Surat kabar di indonesia pertama terbit di surabaya dengan berbahasa melayu salah satu contoh surat kabar yang terbit diantaranya sinar merdeka. Tidak hanya surat kabar informasi yang disampaikan pada waktu itu dapat di dengar melalui radio. Berita yang disampaikan oleh awak media pada tanggal 17 agustus 1945 soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Banyak siaran televisi saat ini yang hanya mengejar sensasi belaka seperti kasus kopi sianida karena banyak diminati oleh masyarakat daripada melihat informasi mengenai masalah korupsi yang sudah mendarah daging di Indonesia. Idealisme yang dimiliki oleh wartawan merupakan kunci utama menjadi seorang jurnalistik untuk menampung semua aspirasi masyarakat. Kegiatan ini ditutup dengan sesi terakhir mengenai dasar-dasar penulisan berita oleh M. Fikri. Dan dilanjutkan dengan foto bersama.


Tulis Komentar

Tuliskan Komentar anda dari akun Facebook Anda